saya diam di sini. entah bisa berteman dengan siapa. semua berubah. semua menjauh. tidak tau mana kawan. semua terlihat seperti lawan.
salah saya adalah, saya duduk di sini, menjadi saya saat ini. dan saya di sini atas perintah. saya, yang duduk di jajaran paling bawah yang hanya mencoba melakukan apa yang diperintahkan. saya, yang dulu duduk di sana tidak bersuara dan tanpa perlawanan dan sekarang duduk di sini memasang muka penuh keberanian dan kelelahan.
bagi saya, duduk di sana ataupun di sini tidak ada istimewanya. hanya saja saya lebih terlihat. lihat saja kaca-kaca di depan meja saya. mereka lebih tau apa yang saya lakukan. dan apalah gunanya "terlihat" bagi saya. toh, saya kehilangan segalanya. keceriaan, persahabatan, kebaiksangkaan, waktu luang, kejernihan pikiran, dan kebersamaan bersama keluarga. dan seseorang malah menilai saya yang tidak-tidak.
saya, terlalu lelah dengan kearogansian pimpinan. dalam kondisi apapun, antara dia dan saya, tidak akan ada nilai kompetisi yang sebanding. dia jenderal, saya prajurit. tetap saja, saya akan kalah. jangankan dapat bintang kehormatan, tatapan mata dan senyum pun tidak ada.
menjadi prajurit yang diandalkan pimpinan memang membanggakan. dan saya cukup bangga bahwa saya pernah ada di sana dan sekarang terpaksa mengangkat bendera putih karena saya tidak ingin berada di antara kearogansian pimpinan lagi.
saya hanya korban
-yqt-
No comments:
Post a Comment